Buy Once Cry Once: 5 Gadget Mahal yang Terbukti Awet Bertahun-tahun

Buy Once Cry Once: 5 Gadget Mahal yang Terbukti Awet Bertahun-tahun

Highlight

Bestindotech
  • Lima produk mahal yang terbukti awet bertahun-tahun, dari iPad Pro 2018 sampai vacuum Dyson berusia 12 tahun.
  • Prinsip buy once, cry once: bayar mahal sekali di awal, tapi terhindar dari siklus beli ulang yang totalnya justru lebih mahal.
  • Setiap produk dibahas jujur, termasuk kekurangannya seperti masalah aplikasi Sonos dan headrest Herman Miller.

Where to Buy

16 products
Apple iPad Pro M5 2025 11-Inch | 13-Inch 512GB 256GB 1TB WiFi Only Standard Glass
Apple iPad Pro M5 2025 11-Inch | 13-Inch 512GB 256GB 1TB WiFi Only Standard Glass
shopee.co.id
Buy Now
Sonos Era 100 SL Smart Wireless Speaker with Bluetooth - Black
Sonos Era 100 SL Smart Wireless Speaker with Bluetooth – Black
shopee.co.id
Buy Now
DS925+ Bundle 1 x HAT3300-4T
DS925+ Bundle 1 x HAT3300-4T
shopee.co.id
Buy Now
Synology DS1525+ Diskstation NAS 5-Bay, RAM 8GB
Synology DS1525+ Diskstation NAS 5-Bay, RAM 8GB
shopee.co.id
Buy Now
Apple iPad Pro M5 with Standard Glass 13 Inci Wi-Fi
Apple iPad Pro M5 with Standard Glass 13 Inci Wi-Fi
shopee.co.id
Buy Now
Apple iPad Pro 11 inci Gen 4 Wi-Fi 1 TB
Apple iPad Pro 11 inci Gen 4 Wi-Fi 1 TB
shopee.co.id
Buy Now
Herman Miller Aeron Mineral Remastered Fully Loaded
Herman Miller Aeron Mineral Remastered Fully Loaded
shopee.co.id
Buy Now
Herman Miller Embody Chair - Ergonomic Office Chair
Herman Miller Embody Chair – Ergonomic Office Chair
www.blibli.com
Buy Now
Dyson V12 Origin ™ Cordless Vacuum Cleaner - Penyedot Debu Serbaguna | Daya hisap kuat| Dengan teknologi penghilang kusut
Dyson V12 Origin ™ Cordless Vacuum Cleaner – Penyedot Debu Serbaguna | Daya hisap kuat| Dengan teknologi penghilang kusut
shopee.co.id
Buy Now
Dyson V16 Piston Animal cordless Vacuum Cleaner (Matte black/Copper) - Penyedot Debu | Lazada Indonesia
Dyson V16 Piston Animal cordless Vacuum Cleaner (Matte black/Copper) – Penyedot Debu | Lazada Indonesia
www.lazada.co.id
Buy Now
Dyson Supersonic ™ Travel Hair Dryer HD19 (Ceramic Pink/Rose Gold) - Pengering Rambut | Universal Voltage | Travel friendly | Ultra -...
Dyson Supersonic ™ Travel Hair Dryer HD19 (Ceramic Pink/Rose Gold) – Pengering Rambut | Universal Voltage | Travel friendly | Ultra -…
shopee.co.id
Buy Now
Dyson Purifier Cool PC1 TP11 (Black/Nickel)
Dyson Purifier Cool PC1 TP11 (Black/Nickel)
www.blibli.com
Buy Now
PROMO SONOS ARC ULTRA SOUNDBAR WITH SPATIAL AUDIO AND DOLBY ATMOS - SMART HOME THEATRE SYSTEM (BLUETOOTH & WIFI COMPATIBLE) - WHITE - Store Herith 01 | Lazada Indonesia
PROMO SONOS ARC ULTRA SOUNDBAR WITH SPATIAL AUDIO AND DOLBY ATMOS – SMART HOME THEATRE SYSTEM (BLUETOOTH & WIFI COMPATIBLE) – WHITE – Store Herith 01 | Lazada Indonesia
www.lazada.co.id
Buy Now
Sonos Arc Ultra Soundbar with Spatial Audio and Dolby Atmos - Smart Home Theatre System (Bluetooth & Wifi Compatible) - White | Lazada Indonesia
Sonos Arc Ultra Soundbar with Spatial Audio and Dolby Atmos – Smart Home Theatre System (Bluetooth & Wifi Compatible) – White | Lazada Indonesia
www.lazada.co.id
Buy Now
SONOS 5.0 BEAM (GEN 2) WITH DOLBY ATMOS SET WITH ERA100 PAIR - BLACK -Colorblind | Lazada Indonesia
SONOS 5.0 BEAM (GEN 2) WITH DOLBY ATMOS SET WITH ERA100 PAIR – BLACK -Colorblind | Lazada Indonesia
www.lazada.co.id
Buy Now
Sonos Era 300 Immersive Music Set Smart Wireless Speaker with Dolby Atmos & Spatial Audio - White | Lazada Indonesia
Sonos Era 300 Immersive Music Set Smart Wireless Speaker with Dolby Atmos & Spatial Audio – White | Lazada Indonesia
www.lazada.co.id
Buy Now

Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.

Ada pola yang sering berulang saat berbelanja gadget. Niat awalnya berhemat, mencari yang paling murah, tapi setelah dipakai sebentar barangnya bermasalah, mulai nge-lag, dan ujungnya harus membeli lagi. Total pengeluarannya justru lebih besar ketimbang membeli satu barang yang benar-benar tahan lama sejak awal.

Di sinilah prinsip buy once, cry once masuk. Beli sekali, menangis saat membayar, tapi setelah itu puas karena barangnya awet dipakai bertahun-tahun. Berikut lima produk yang dulu sempat membuat dompet menjerit, tapi setelah dipakai lama justru terbukti menjadi keputusan pembelian yang paling tepat. Semuanya berdasarkan pengalaman pemakaian langsung, lengkap dengan kekurangannya.

iPad Pro yang Masih Bertahan Setelah Delapan Tahun

Yang pertama adalah iPad Pro 11 inci yang dibeli sejak 2018 dengan storage 256GB, seharga sekitar 13,5 juta rupiah pada masanya. Angka itu terasa besar, apalagi saat itu adalah tahun pertama iPad Pro berganti desain menjadi lebih mengotak dengan bezel rata, dan sudah memakai ProMotion 120Hz yang mulus. Sebagai perbandingan, iPhone baru mendapat ProMotion tiga tahun setelahnya lewat iPhone 13 Pro dan Pro Max di 2021.

Setelah delapan tahun, performanya masih terasa mulus berkat chip A12X yang pada zamannya tergolong overpowered, membuat umur pakai tablet ini panjang. Kini perangkat itu dipakai istri dan anak sebagai baby monitor dan untuk menonton YouTube Kids. Meski begitu, usia tetap berpengaruh. Baterainya mulai cepat habis dan bocor, sayangnya tanpa fitur battery health sehingga kondisinya sulit dipantau. Perangkat ini juga tidak lagi mendukung versi iPadOS terbaru, yang kemungkinan menjadi penutup perjalanannya sebelum dijual.

Sebagai penerusnya, kini beralih ke iPad Pro M5 13 inci yang sudah memakai layar tandem OLED. Chip Apple Silicon seri M yang dipakai terkenal kencang, bahkan terasa terlalu kencang untuk iPadOS yang fungsinya masih terbatas. Yang menarik, tahun ini Tim Cook akan turun dari posisi CEO dan digantikan John Ternus, yang disebut sebagai salah satu alasan iPadOS bisa hadir seperti sekarang. Perkembangan iPad di tangannya jadi menarik untuk diikuti, dengan harapan iPadOS tidak lagi dianaktirikan sehingga iPad Pro benar-benar menjadi perangkat Pro.

Synology NAS yang Ternyata Jauh Lebih dari Sekadar Backup

Synology NAS yang sudah dipakai sejak 2021

Perangkat kedua sudah dipakai sejak 2021, yaitu Synology NAS atau Network Attached Storage. Awalnya dibeli sebagai solusi backup data konten yang terus menumpuk di banyak hard disk, dan harganya sempat terasa berat. Setelah bertahun-tahun dipakai, manfaatnya ternyata jauh melampaui sekadar penyimpanan cadangan.

Sebagai patokan bagi para profesional, backup idealnya mengikuti aturan 3-2-1, yaitu tiga salinan, dua media berbeda, dan satu salinan disimpan di lokasi lain. Untuk itu, ada Synology DS1522+ dengan lima bay di kantor, ditambah DS925+ yang dipasang di rumah setelah renovasi. Dengan konfigurasi ini, data pribadi tersimpan di kantor, di rumah, dan satu lagi di cloud.

Di rumah, NAS ini bertransformasi menjadi media center keluarga menggunakan Jellyfin, yang berfungsi seperti layanan streaming pribadi tanpa biaya bulanan. Ada pula Tailscale agar semua media bisa diakses dengan aman dari mana saja, bahkan saat berada di luar negeri, serta fitur backup foto otomatis lewat Synology Photos yang berguna sebagai cadangan dari iCloud dan Google Photos. Bagi yang senang bereksperimen, NAS juga bisa dipakai untuk home lab server.

Untuk penyimpanannya, hard disk yang dipakai berasal dari Synology karena tersedia dalam paket bundel bersama NAS-nya. Sejak pembaruan DSM 7.3, model NAS Synology yang rilis pada 2025 sudah mendukung instalasi hard drive pihak ketiga yang non-validated, sehingga merek lain kini bisa digunakan. Keunggulan lainnya ada pada sistem redundancy, yang memungkinkan penggantian hard drive rusak tanpa kehilangan data. Setelah tiga tahun terakhir dipakai di kantor dan rumah, tidak pernah muncul masalah berarti, dengan setup yang tergolong mudah, user friendly, dan memang didesain untuk menyala nonstop 24 jam.

Herman Miller Iron Chair yang Menyelamatkan Pinggang

Kursi kerja Herman Miller yang dipakai setiap hari

Berikutnya adalah barang yang dipakai setiap hari di rumah maupun studio, yaitu kursi kerja Herman Miller Iron Chair. Perkenalan dengan Herman Miller dimulai pada 2021 lewat seri Sail, dan sejak itu alasan di balik harganya yang tinggi mulai terasa masuk akal. Bukan hanya kualitasnya yang solid, tapi juga ergonominya yang membuat keluhan sakit pinggang yang sebelumnya sering muncul menjadi hilang.

Reputasinya terlihat dari penggunaannya di berbagai kantor dan institusi, salah satunya Apple Academy Indonesia di Thamrin yang memakai kursi ini untuk para mahasiswanya. Unit yang dipakai sendiri dibeli dalam kondisi bekas, tapi masih bergaransi karena Herman Miller memberi garansi sampai 12 tahun, sementara pemilik sebelumnya baru memakainya dua tahun. Sejauh ini tidak ada masalah, dengan bahan yang seluruhnya solid, dan hanya rodanya yang diganti agar lebih mulus meski hasilnya justru terasa terlalu licin.

Ada satu catatan penting, yaitu soal headrest tambahan. Kursi Herman Miller pada dasarnya dirancang tanpa headrest karena ditujukan untuk produktivitas. Headrest pihak ketiga dari Atlas Headrest, yang dibuat mantan desainer Herman Miller, memang tersedia dan dipakai di Iron maupun Embody di studio. Sayangnya, melepas plastik pada produk tersebut membatalkan cakupan garansinya di Indonesia, dan pembelian ke pusat menjadi mahal karena ongkos kirim serta pajaknya. Pada Embody di kantor, headrest juga meninggalkan bekas yang cukup terlihat di bagian kain kursinya, sehingga lebih disarankan mempertahankan desain aslinya tanpa headrest.

Sonos dan Kenyamanan Ekosistem Audio Tanpa Kabel Berantakan

Speaker Sonos One yang dipakai sejak 2017

Produk keempat adalah speaker dari Sonos, yang bisa disebut sebagai Apple-nya dunia speaker. Perjalanan dengannya dimulai sejak 2017, ketika Sonos menjadi salah satu speaker pertama yang mengandalkan Wi-Fi alih-alih Bluetooth. Alasannya, selling point utama Sonos adalah kemampuan membangun sistem multi room, di mana semua speaker di ruangan berbeda bisa terhubung lewat Wi-Fi tanpa perlu pairing Bluetooth satu per satu. Cukup colok kabel listrik, pairing lewat aplikasi, dan selesai, tanpa kabel speaker panjang yang ruwet.

Momen yang paling berkesan terjadi saat membeli speaker kedua. Sonos Play One yang awalnya mono berubah menjadi stereo pairing kiri dan kanan, dan hasil suaranya langsung terasa jauh lebih mantap hanya dengan mencolokkan listrik dan menghubungkan aplikasi. Speaker tersebut kini sudah dijual ke teman yang memakainya untuk kafe, dan sampai sekarang masih berfungsi baik tanpa keluhan.

Lini produk Sonos kini cukup luas, mencakup soundbar untuk TV seperti Sonos Arc, serta versi compact bernama Beam Gen 2 yang dipakai di kamar tidur. Sistem soundbar bisa digabungkan dengan speaker Sonos lain menjadi setup home theater, termasuk dua speaker surround Symfonisk hasil kolaborasi dengan IKEA di bagian belakang, ditambah subwoofer. Semuanya cukup dicolok ke listrik, sehingga tampilannya rapi tanpa kabel bergelantungan.

Fitur yang paling menonjol adalah Trueplay, kalibrasi ruangan dengan cara berkeliling untuk memetakan batas ruangan, lalu Sonos menyesuaikan suaranya. Hasilnya terasa lebih proper dan nyaman di telinga tanpa perlu mengutak-atik equalizer. Meski begitu, ada kekurangan yang cukup terasa. Beberapa tahun terakhir aplikasinya bermasalah cukup panjang, sampai CEO-nya mundur dan penggantinya kini berupaya membenahi. Masalahnya berakar pada perpindahan sistem dari local network ke server cloud, yang membuat koneksi jadi tidak stabil, lagu patah-patah, dan smart assistant tidak bisa dipakai. Keterbatasan lain, sistem ini tidak bisa digabungkan dengan speaker merek lain, dan harganya tidak murah. Ada juga harapan agar fitur front channel dibuka resmi, karena saat ini hanya bisa diakses lewat aplikasi pihak ketiga bernama Sonos Sequencer, yang kini dimanfaatkan untuk mengaktifkan Sonos Play 3 lawas sebagai speaker depan.

Dyson dan Vacuum Cleaner yang Bertahan Lebih dari Satu Dekade

Produk terakhir datang dari merek yang paling lama dipakai, bahkan sebelum kanal YouTube Bestindotech dimulai, yaitu Dyson. Perkenalannya bermula sekitar 2013 sampai 2014, saat Malvin masih tinggal sendiri dan membutuhkan solusi bersih-bersih yang praktis. Kala itu vacuum cleaner umumnya masih berkabel dan berukuran besar, sementara Dyson hadir sebagai vacuum portabel yang ramping, menarik secara desain, dan cordless.

Produk Dyson pertama yang dibeli adalah seri Animal DC44, yang kini sudah diwariskan ke adik dan masih menyala sampai sekarang, dua belas tahun kemudian, bahkan dengan baterai yang belum pernah diganti. Chargernya sempat bermasalah, tapi alternatifnya bisa ditemukan secara online sehingga vacuum tersebut tetap aktif dipakai. Setelah mencoba berbagai merek lain yang kini menawarkan harga lebih terjangkau dengan fungsi serupa, daya tahan Dyson tetap patut diapresiasi.

Kini yang dipakai di rumah adalah Dyson V12 yang sudah berumur sekitar empat tahun tanpa masalah. Harganya memang membuat menangis, sekitar 13 sampai 14 juta, tapi peningkatannya terasa signifikan. Kepala vacuum-nya dilengkapi laser hijau yang membantu melihat debu di lantai, sesuatu yang sangat diapresiasi karena alergi debu di rumah, ditambah pilihan attachment yang banyak dan proses pembersihan yang mudah. Satu-satunya catatan, bodinya yang berbahan plastik sudah mulai terlihat lecet di beberapa bagian.

Di luar vacuum, ada beberapa produk Dyson lain yang dipakai. Hair dryer Dyson Supersonic termasuk yang direkomendasikan, begitu pula Dyson Airwrap yang dipakai istri untuk menata rambut sekaligus berfungsi sebagai hair dryer. Sebaliknya, yang kurang direkomendasikan adalah kipas angin bladeless yang sekaligus berfungsi sebagai air purifier, karena embusan anginnya kurang kencang akibat sistem bladeless tersebut. Secara fungsi sebagai pemurni udara sebenarnya baik dan desainnya estetis untuk ruangan premium, tapi fungsi utamanya sebagai kipas angin justru kurang terasa.

Menghitung Nilai Sebuah Barang dalam Jangka Panjang

Dari lima produk ini, benang merahnya jelas. Buy once, cry once bukan soal menghambur-hamburkan uang, melainkan soal bagaimana sebuah pembelian dihitung sebagai investasi jangka panjang. Ketika alat kerja atau barang harian terbukti awet dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, harga yang terasa berat di awal akhirnya terbayar.

Yang menarik, tidak satu pun dari produk ini bebas dari kekurangan. Baterai iPad yang menurun, aplikasi Sonos yang bermasalah, headrest yang menyisakan penyesalan, sampai bodi plastik Dyson yang mulai lecet. Justru di situlah kejujurannya, karena keputusan pembelian yang baik bukan berarti sempurna, melainkan tetap bernilai setelah bertahun-tahun dipakai. Di tengah harga gadget yang terus naik, cara berpikir seperti ini mungkin jadi bekal yang paling berguna sebelum menekan tombol beli.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!